Di Dalam Sistem, di Luar Arus: Catatan Politik dan Ideologi

Ada fase dalam hidup ketika kita mulai melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Bukan karena tiba-tiba menjadi lebih pintar, lebih kritis, atau merasa sudah memahami dunia. Justru sering kali karena kita pernah berada cukup dekat dengan sesuatu yang sebelumnya hanya kita lihat dari luar.

Saya mengalami itu ketika mulai melihat bagaimana sebuah sistem bekerja dalam kehidupan nyata.

Sebelumnya, saya juga seperti kebanyakan orang. Melihat politik dari berita, melihat pemerintah dari kebijakan, melihat organisasi dari struktur, lalu menilai semuanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada orang yang dianggap hebat, ada yang dianggap gagal. Ada yang menang pemilu, ada yang kalah. Selesai.

Tetapi pengalaman membuat persoalannya tidak sesederhana itu.

Saya mulai menyadari bahwa orang yang berada di posisi atas belum tentu menjadi satu-satunya persoalan. Seseorang bisa terpilih melalui proses demokratis, punya niat baik, punya gagasan, bahkan benar-benar ingin melakukan perubahan. Tetapi setelah kekuasaan berjalan, ia tetap harus berhadapan dengan struktur, kepentingan, orang-orang di sekelilingnya, dan berbagai kompromi yang mungkin tidak pernah terlihat oleh masyarakat.

Di situlah saya mulai tertarik pada satu pertanyaan sederhana: sebenarnya siapa yang mengendalikan sebuah sistem?

Apakah hanya orang yang namanya terpampang di atas?

Atau justru ada jaringan kepentingan yang jauh lebih panjang di bawahnya?

Pertanyaan itu kemudian membawa saya melihat hal-hal yang sebelumnya mungkin saya anggap sebagai persoalan biasa. Ada orang yang dipertahankan bukan karena kompetensinya, tetapi karena kedekatan. Ada kesalahan yang tidak diperbaiki karena terlalu banyak kepentingan yang harus dijaga. Ada keputusan yang secara logika bermasalah, tetapi tetap dipertahankan karena mengakui kesalahan dianggap lebih merugikan daripada membiarkannya.

Dan yang paling aneh adalah ketika semua itu akhirnya menjadi sesuatu yang normal.

“Memang dari dulu begitu.”

Kalimat seperti itu sebenarnya sederhana, tetapi kalau dipikir lebih jauh, cukup berbahaya. Sebab sesuatu yang salah tidak otomatis menjadi benar hanya karena sudah dilakukan selama bertahun-tahun.

Saya tidak merasa lebih pintar daripada orang lain karena mempertanyakan hal-hal tersebut. Bahkan saya sendiri masih banyak belajar. Saya hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika kesalahan mulai diperlakukan sebagai kebiasaan, kebiasaan mulai dianggap sebagai budaya, dan budaya akhirnya digunakan sebagai alasan untuk tidak melakukan perubahan.

Mungkin karena itu saya mulai memahami kenapa pemikiran seperti Marx, Gramsci, Chomsky, Freire, Bakunin, Kropotkin, atau banyak pemikir progresif lainnya masih menarik untuk dibaca sampai sekarang.

Bukan karena saya ingin mencari tokoh untuk dijadikan guru.

Saya justru tertarik karena beberapa pertanyaan yang mereka ajukan terasa dekat dengan persoalan yang saya lihat sendiri.

Marx, misalnya, tidak hanya berbicara tentang uang atau pertentangan kelas seperti yang sering disederhanakan dalam percakapan sehari-hari. Ia banyak membongkar bagaimana hubungan ekonomi dapat membentuk hubungan sosial dan bagaimana kepentingan material dapat memengaruhi struktur masyarakat.

Gramsci kemudian membuat saya melihat persoalan yang sedikit berbeda. Kekuasaan ternyata tidak selalu bekerja dengan cara memaksa orang menggunakan kekerasan. Kadang kekuasaan bekerja dengan cara yang jauh lebih halus: membuat sesuatu terlihat normal, masuk akal, bahkan dianggap sebagai satu-satunya cara yang mungkin.

Chomsky membawa pertanyaan lain lagi: bagaimana informasi, media, institusi, dan kepentingan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami realitas. Bukan berarti semua yang diberitakan pasti bohong. Justru persoalannya bisa jauh lebih rumit daripada itu. Kita bisa saja mendapatkan informasi yang benar, tetapi tetap melihat dunia melalui kerangka yang sudah dibentuk oleh sistem informasi tertentu.

Freire berbicara tentang pendidikan dan kesadaran. Bahwa manusia seharusnya tidak hanya diajarkan untuk menerima dunia sebagaimana adanya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membaca, mempertanyakan, dan mengubahnya.

Kemudian ketika membaca pemikiran Bakunin, Kropotkin, atau Malatesta, saya menemukan pertanyaan lain mengenai kekuasaan, negara, kebebasan, solidaritas, dan bagaimana manusia dapat mengatur kehidupannya tanpa selalu bergantung pada struktur kekuasaan yang berada di atas mereka.

Menariknya, saya tidak sampai pada pemikiran-pemikiran itu karena ingin menjadi “orang kiri”.

Saya justru mengalami sesuatu terlebih dahulu, kemudian mencari penjelasan.

Bagi saya, urutannya penting.

Pengalaman → pertanyaan → pengamatan → membaca → kemudian berpikir kembali.

Bukan membaca satu buku, menemukan satu teori, lalu memaksa seluruh kenyataan agar cocok dengan teori tersebut.

Karena itu saya juga tidak ingin menggunakan Marx untuk menjelaskan semua hal. Tidak semua persoalan adalah persoalan kelas. Tidak semua kesalahan adalah akibat kapitalisme. Tidak semua pemerintah adalah bentuk penindasan yang sama. Dan tidak semua kritik terhadap sistem otomatis membuat orang yang mengkritik menjadi benar.

Kalau kita benar-benar ingin berpikir kritis, kita juga harus berani mengkritik pemikiran yang kita sukai sendiri.

Ini yang menurut saya sering hilang dalam perdebatan politik.

Orang terlalu sibuk mencari kubu.

Kalau seseorang mengkritik pemerintah, langsung dianggap anti-negara. Kalau mengkritik kapitalisme, dianggap komunis. Kalau mengkritik sosialisme, dianggap kanan. Kalau tidak memilih, dianggap tidak peduli. Kalau memilih, dianggap bagian dari permainan. Kalau membicarakan Pancasila secara kritis, dianggap ingin mengganti negara.

Padahal manusia tidak sesederhana label politiknya.

Seseorang bisa mencintai negaranya sekaligus kecewa terhadap pemerintahnya.

Seseorang bisa percaya pada nilai kemanusiaan tetapi mengkritik cara negara menjalankan kekuasaan.

Seseorang bisa mendukung demokrasi tetapi kecewa terhadap kualitas demokrasi yang sedang berjalan.

Dan seseorang bisa memilih tidak ikut dalam sebuah proses politik bukan karena membenci masyarakat, tetapi karena merasa pilihan yang tersedia tidak cukup mewakili keyakinannya.

Saya mulai memahami itu setelah mengalami sendiri bagaimana rasanya berada di dalam sebuah sistem.

Ketika berada di dalam, kita melihat konsekuensinya secara langsung. Kita melihat bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kesalahan ditangani, bagaimana orang bekerja, bagaimana kepentingan bertemu, dan bagaimana sesuatu yang di atas kertas terlihat sangat rapi bisa menjadi sangat berbeda ketika dijalankan oleh manusia.

Setelah keluar dan mengambil jarak, saya justru bisa melihatnya dengan lebih tenang.

Saya tidak lagi terlalu sibuk mempertahankan posisi.

Saya bisa bertanya: kenapa dulu saya menganggap ini normal?

Kenapa orang-orang membiarkan hal seperti ini?

Kenapa orang yang sebenarnya tahu ada masalah memilih diam?

Dan jawabannya ternyata tidak selalu karena mereka bodoh.

Sebagian tahu.

Sebagian sadar.

Sebagian bahkan mungkin tidak setuju.

Tetapi mereka punya pekerjaan. Punya keluarga. Punya posisi. Punya hubungan. Punya kepentingan. Ada yang takut kehilangan sesuatu. Ada yang sudah terlalu nyaman. Ada pula yang mungkin berpikir bahwa melawan sistem tidak akan mengubah apa-apa.

Saya tidak merasa punya hak untuk menghakimi semuanya.

Tetapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Karena di titik tertentu, diam bukan lagi sekadar tidak berbicara. Diam bisa menjadi cara untuk mempertahankan keadaan.

Dan ketika terlalu banyak orang memilih diam, sesuatu yang sebenarnya salah dapat memperoleh legitimasi sosial.

Lama-lama kita tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”

Kita justru bertanya, “Apakah semua orang juga melakukannya?”

Kalau jawabannya iya, kita merasa aman.

Di situlah mungkin masalahnya.

Saya mulai menyadari bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari orang yang memiliki jabatan paling tinggi. Kadang perubahan justru dimulai dari orang biasa yang menolak menganggap sesuatu yang salah sebagai hal yang wajar.

Bukan karena dia paling pintar.

Bukan karena dia paling bersih.

Bukan karena dia punya solusi untuk semuanya.

Tetapi karena dia masih memiliki keberanian untuk bertanya.

Dan mungkin itu alasan saya semakin tertarik membaca pemikiran-pemikiran politik, filsafat, ekonomi, sejarah, dan sosial. Bukan untuk mengumpulkan nama tokoh agar terlihat intelektual. Bukan juga untuk mencari pembenaran terhadap semua keresahan saya.

Saya membaca karena saya ingin tahu apakah pertanyaan yang muncul dari pengalaman saya ternyata juga pernah dipikirkan manusia lain jauh sebelum saya.

Ternyata memang banyak.

Bahkan beberapa pertanyaan itu sudah berumur puluhan, ratusan tahun.

Bedanya, mereka hidup di zaman yang berbeda dan menghadapi masalah yang berbeda. Karena itu jawaban mereka juga tidak bisa ditelan mentah-mentah.

Saya tidak hidup di zaman Marx.

Saya tidak hidup di Rusia pada masa Bakunin.

Saya tidak berada di Italia ketika Gramsci menulis tentang hegemoni.

Saya juga tidak hidup dalam konteks yang sama dengan Chomsky atau Freire.

Saya hidup di sini, di zaman saya sendiri, dengan pengalaman saya sendiri.

Maka tugas saya bukan menjadi salinan dari mereka.

Tugas saya adalah menggunakan pemikiran mereka sebagai alat untuk membaca dunia saya sendiri.

Dan semakin banyak saya membaca, semakin saya sadar bahwa berpikir kritis bukan berarti selalu menolak.

Berpikir kritis berarti berani berhenti sejenak sebelum percaya.

Berani bertanya sebelum mengikuti.

Berani mengakui ketika kita salah.

Dan yang paling sulit, berani mempertanyakan sesuatu ketika semua orang di sekitar kita sudah merasa bahwa tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Mungkin itu juga yang membuat saya sekarang tidak terlalu tertarik untuk mencari siapa yang paling benar dalam politik.

Saya lebih tertarik melihat bagaimana kekuasaan bekerja.

Siapa yang mendapatkan kesempatan.

Siapa yang tidak mendapatkan kesempatan.

Siapa yang menentukan aturan.

Siapa yang diuntungkan oleh aturan tersebut.

Siapa yang harus menanggung akibatnya.

Dan apakah manusia yang berada di dalam sistem tersebut masih diperlakukan sebagai manusia, atau hanya sebagai angka, tenaga kerja, suara pemilih, bawahan, konsumen, atau alat untuk mencapai kepentingan tertentu.

Karena pada akhirnya, bagi saya, politik bukan hanya soal pemilu.

Politik ada ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk menentukan sesuatu yang berdampak pada kehidupan orang lain.

Politik ada di kantor.

Ada di organisasi.

Ada di sekolah.

Ada di keluarga.

Ada di lingkungan masyarakat.

Bahkan mungkin ada dalam percakapan sederhana ketika seseorang menentukan siapa yang boleh bicara dan siapa yang harus diam.

Maka saya tidak tahu ke mana pemikiran saya akan membawa saya nantinya.

Mungkin saya akan tetap memilih.

Mungkin suatu hari saya memilih golput.

Mungkin saya mendukung seseorang.

Mungkin saya justru mengkritik orang yang sebelumnya saya dukung.

Saya tidak ingin membuat keputusan hanya karena sebuah kelompok mengatakan bahwa itulah pilihan yang benar.

Saya ingin memahami alasannya.

Saya ingin melihat kenyataannya.

Saya ingin mengalami konsekuensinya.

Dan kalau ternyata setelah semua itu saya harus berdiri berbeda dengan mayoritas, mungkin saya akan tetap berdiri di sana.

Bukan karena saya ingin menjadi berbeda.

Tetapi karena saya tidak ingin kehilangan kemampuan untuk mengatakan:

“Sebentar. Ada sesuatu yang tidak beres di sini.”

Mungkin pada akhirnya, menjadi kritis bukan tentang memiliki semua jawaban.

Justru mungkin tentang menjaga keberanian untuk terus mengajukan pertanyaan.

Karena sistem yang sehat seharusnya tidak takut terhadap orang yang bertanya.

Yang seharusnya ditakuti adalah ketika masyarakat sudah terlalu terbiasa dengan kesalahan sampai akhirnya tidak merasa perlu bertanya lagi.

Dan kalau suatu hari saya benar-benar berjalan melawan arus, saya ingin memastikan satu hal:

Saya tidak berjalan karena ingin terlihat paling benar.

Saya berjalan karena setelah melihat, mengalami, membaca, dan memikirkan semuanya kembali, hati nurani saya mengatakan bahwa saya tidak bisa berpura-pura tidak melihat.

Mungkin itu saja.

Tidak lebih.

Saya hanya ingin tetap menjadi manusia yang mampu berpikir sendiri.

Karena pada akhirnya, mungkin kebebasan yang paling sederhana bukanlah bebas melakukan apa saja.

Melainkan masih memiliki keberanian untuk menentukan apa yang kita anggap benar, mempertanggungjawabkannya, dan bersedia mengubah pendirian ketika kenyataan membuktikan bahwa kita salah.

Dan mungkin, dari sana, perubahan memang selalu dimulai.

Bukan dari orang yang merasa sudah mengetahui semuanya.

Tetapi dari orang biasa yang masih mau bertanya.

— Orang Biasa

Komentar

Postingan Populer