Masa lalu itu penting. Sebagian memang perlu diingat, bukan untuk dipuja, tapi untuk dijadikan pembelajaran, referensi, dan bahan evaluasi supaya kita tidak mengulang kebodohan yang sama. Tapi gw punya satu hal yang sangat gw gak suka: orang yang hidupnya terlalu sering kembali ke cerita “dulu”. Dulu gw begini. Dulu gw pernah begitu. Dulu gw kenal orang ini. Dulu gw pernah ada di sana. Dulu gw pernah melakukan itu. Awalnya gw dengarkan. Gw hargai. Namanya juga pengalaman orang. Tapi kalau hampir setiap percakapan selalu berujung pada cerita masa lalu hanya untuk membangun kesan bahwa dirinya lebih tahu, lebih hebat, lebih berpengalaman, atau lebih tinggi dari gw, lama-lama yang terdengar bukan lagi pengalaman, tapi kebutuhan untuk diakui. Yang lucu, biasanya dibungkus dengan gaya merendah. “Gw mah cuma orang biasa.” Tapi lima menit kemudian keluar satu jilid autobiografi tentang betapa hebatnya dirinya di masa lalu. Gw bukan gak bisa meladeni. Kalau gw mau, gw j...
Sidang Majelis Umum PBB 2025 seolah jadi panggung yang biasa diwarnai pidato diplomatis penuh basa-basi. Para pemimpin dunia naik ke podium dengan wajah tenang, melempar jargon perdamaian, melukis janji-janji manis, lalu turun lagi untuk melanjutkan transaksi politik dan ekonomi yang justru memperpanjang penderitaan rakyat. Seringkali, panggung itu hanyalah etalase kepalsuan global. Namun, kali ini ada satu suara yang benar-benar berbeda. Gustavo Petro, Presiden Kolombia, tampil bukan sebagai diplomat yang sekadar menghibur kamera, melainkan sebagai macan Latin yang mengaum di hadapan elit dunia. Ia menelanjangi kerakusan negara-negara industri, mengutuk kapitalisme hijau yang hanya kedok untuk melanjutkan eksploitasi, dan menyorot hipokrisi negara-negara kaya yang pura-pura peduli perdamaian. Petro tidak datang untuk menjual citra. Ia datang dengan keberanian yang jujur: suara Selatan Global yang menolak tunduk. Che Guevara pernah mengatakan bahwa kemurkaan terhadap ketida...