Langsung ke konten utama

Bukan Berbagi Pengalaman Tapi Sedang Membangun Superioritas

Masa lalu itu penting. Sebagian memang perlu diingat, bukan untuk dipuja, tapi untuk dijadikan pembelajaran, referensi, dan bahan evaluasi supaya kita tidak mengulang kebodohan yang sama.

Tapi gw punya satu hal yang sangat gw gak suka: orang yang hidupnya terlalu sering kembali ke cerita “dulu”.

Dulu gw begini.
Dulu gw pernah begitu.
Dulu gw kenal orang ini.
Dulu gw pernah ada di sana.
Dulu gw pernah melakukan itu.
Awalnya gw dengarkan. Gw hargai. Namanya juga pengalaman orang.

Tapi kalau hampir setiap percakapan selalu berujung pada cerita masa lalu hanya untuk membangun kesan bahwa dirinya lebih tahu, lebih hebat, lebih berpengalaman, atau lebih tinggi dari gw, lama-lama yang terdengar bukan lagi pengalaman, tapi kebutuhan untuk diakui.

Yang lucu, biasanya dibungkus dengan gaya merendah.

“Gw mah cuma orang biasa.”

Tapi lima menit kemudian keluar satu jilid autobiografi tentang betapa hebatnya dirinya di masa lalu.

Gw bukan gak bisa meladeni. Kalau gw mau, gw juga bisa masuk ke permainan itu. Tapi buat apa?

Dari cara seseorang berbicara, cara dia menyusun argumen, bagaimana dia merespons pertanyaan, seberapa akurat informasi yang dia sampaikan, sampai kebiasaan membesar-besarkan cerita, sebenarnya kapasitas seseorang cukup mudah terbaca.

Gak perlu gw bongkar satu-satu.

Karena orang sering lupa, bahwa kapasitas seseorang bukan cuma terlihat dari apa yang pernah dia lakukan, tapi dari bagaimana dia berpikir hari ini.

Pengalaman masa lalu memang punya nilai. Tapi pengalaman tanpa kemampuan mengolahnya cuma menjadi koleksi cerita.

Dan gw paling malas kalau sedang bertanya atau bercerita beberapa kalimat, lalu dibalas dengan cerita panjang seperti novel anak SMP.

Gw nanya satu hal, jawabannya sudah masuk prolog, flashback, konflik utama, sampai epilog.

Yapping.

Biasanya gw cuma jawab singkat.

“Iya.”

“Oh.”

“Hmm.”

“Paham.”

Bukan karena gw kehabisan kata-kata.

Gw cuma gak punya kewajiban untuk ikut berlomba menjadi siapa yang paling superior.

Kalau dia merasa puas setelah selesai bercerita, silakan.

Kadang membiarkan seseorang terus bicara justru membuat kita semakin mudah melihat dirinya sendiri.

Karena semakin banyak seseorang bicara, semakin banyak pula yang tanpa sadar dia tunjukkan: cara berpikirnya, pengetahuannya, logikanya, egonya, bahkan batas antara pengalaman nyata dan cerita yang sudah terlalu lama dia poles.

Jadi buat gw, masa lalu cukup ditempatkan pada tempatnya.

Ambil pelajarannya. Simpan referensinya. Hormati pengalamannya. Tapi jangan jadikan masa lalu sebagai panggung untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sebab pada akhirnya, gw gak terlalu tertarik pada siapa lu dulu.

Gw lebih tertarik melihat siapa lu sekarang.

Dan kalau untuk terlihat superior lu harus terus-menerus mengutip masa lalu, mungkin yang sebenarnya sedang lu pertahankan bukan superioritas.

Tapi perasaan bahwa lu masih berarti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Karakteristik Seseorang dari Sebuah Foto

Membaca Karakteristik Seseorang dari Sebuah Foto Karakter manusia adalah salah satu aspek paling kompleks dari keberadaan kita. Karakter dibentuk oleh berbagai faktor termasuk genetik, lingkungan, pengalaman hidup, dan interaksi sosial. Mempelajari karakter seseorang bisa menjadi tantangan, namun sering kali kita bisa mendapatkan wawasan tentang karakter seseorang melalui observasi visual, seperti dari sebuah foto. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana membaca karakteristik seseorang dari sebuah foto dan apa yang bisa kita pelajari dari ekspresi, postur, dan elemen-elemen lain dalam gambar. Pemahaman Dasar tentang Karakter Manusia Karakter manusia mencakup serangkaian sifat yang menentukan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Sifat-sifat ini bisa dibagi menjadi beberapa kategori, seperti: Sifat Ekstrovert vs Introvert. Sejauh mana seseorang mendapat energi dari interaksi sosial atau dari waktu sendiri. Sifat Tertutup vs Terbuka.  Kecenderungan untuk ...

Frekuensi Kerja RAPI Prov. Jawa Barat

Lanjut ke konten Frekuensi Kerja RAPI Prov. Jawa Barat Daftar Alur Frekuensi Kerja RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Provinsi Jawa Barat berdasarkan Surat Keputusan No. 004.09.10.0214 tanggal 2 Februari 2014 tentang Penetapan dan Pengesahan Nama Institusi Organisasi SK ini telah diperbaharui dengan  SURAT KETETAPAN RAPAT KERJA DAERAH KHUSUS RAPI DAERAH 10 PROVINSI JAWA BARAT NOMOR: 04.09.RAKREDASUS.10.0419 tanggal 21 April 2019. RAPI KABUPATEN BOGOR ( JZ10ZWF ) Alokasi Frekuensi Kerja RAPI Kabupaten Bogor : 142.400 Mhz Alokasi RAPI Kecamatan Kabupaten Bogor, sbb: 1. RAPI Kecamatan Cibinong               142.820 Mhz JZ10ZWF – 01 2. RAPI Kecamatan Parung                  142.920 Mhz JZ10ZWF – 02 3. RAPI Kecamatan Citeureup              143.040 Mhz JZ10ZWF – 03 4. RAPI Kecamatan Lido                     ...

Bimbingan Organisasi RAPI

Bimbingan Organisasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh RAPI dalam upaya pembinaan dan pengembangan organisasi untuk penerimaan anggota baru, yang merupakan syarat utama untuk menjadi Anggota RAPI. Pengurus RAPI Provinsi bertanggung jawab atas kegiatan ini dan mengeluarkan Sertifikat Bimbingan Organisasi. Pengurus RAPI Kabupaten bertindak sebagai pelaksana kegiatan Bimbingan Organisasi. Sertifikat Bimbingan Organisasi diberikan kepada peserta yang mengikuti kegiatan ini, ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris RAPI Provinsi, dan sertifikat ini bukan satu satunya yang merupakan bukti keanggotaan RAPI. Maksud dan Tujuan Tujuan dari pelaksanaan Bimbingan Organisasi adalah memberikan pembinaan kepada Calon Anggota Baru dan Anggota RAPI yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut, agar mereka dapat lebih memahami Kegiatan, Tata Cara, dan Peraturan berkomunikasi sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART RAPI). Hal ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada ...