Di Tengah Dunia yang Berantakan, Kita Masih Sibuk Membuktikan Diri

Ada sesuatu yang belakangan ini cukup mengganggu pikiran saya ketika melihat perilaku sebagian orang di media sosial. Di tengah situasi ekonomi yang semakin menekan, kesenjangan sosial yang masih menjadi persoalan, serta berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah, kita masih bisa menemukan orang-orang yang begitu bersemangat memamerkan kesibukan pekerjaannya. Seolah-olah dunia perlu tahu betapa sibuknya mereka, betapa pentingnya posisi mereka, betapa banyak urusan yang harus mereka selesaikan, dan betapa besar tanggung jawab yang berada di pundak mereka.

Saya tidak sedang mempermasalahkan orang yang bekerja keras, mencintai pekerjaannya, atau ingin membagikan pencapaiannya kepada orang lain. Setiap orang berhak menikmati hasil kerja kerasnya. Tidak ada yang salah dengan merasa bangga atas sesuatu yang telah diperjuangkan. Persoalannya muncul ketika kesibukan tidak lagi sekadar menjadi bagian dari kehidupan, melainkan berubah menjadi pertunjukan tentang betapa pentingnya diri sendiri.

Ada perbedaan antara berbagi cerita tentang pekerjaan dan terus-menerus membangun kesan bahwa diri kita adalah orang yang luar biasa karena pekerjaan tersebut. Ada pula perbedaan antara benar-benar memiliki tanggung jawab dan sengaja menampilkan tanggung jawab itu sedemikian rupa agar orang lain menganggap kita istimewa. Sesuatu yang sebenarnya biasa saja bisa dikemas seolah-olah merupakan pencapaian luar biasa, lengkap dengan narasi tentang betapa melelahkannya hari yang dijalani, betapa banyak orang yang harus diarahkan, atau betapa rumitnya persoalan yang harus diselesaikan.

Kadang-kadang saya justru bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang sedang diyakinkan oleh semua itu? Orang lain, atau diri sendiri?

Sebab, jika kita mau jujur, tidak semua pekerjaan yang terlihat sibuk memiliki dampak sebesar yang ingin ditampilkan. Ada pekerjaan yang memang membutuhkan keahlian tinggi, ada pula pekerjaan administratif yang merupakan bagian normal dari rutinitas profesional. Keduanya tetap memiliki fungsi. Namun, mengapa sesuatu yang merupakan kewajiban sehari-hari terkadang perlu dipresentasikan seperti sebuah pengorbanan besar yang pantas mendapatkan tepuk tangan?

Apakah sekarang menyelesaikan pekerjaan saja belum cukup? Apakah kita juga harus memastikan bahwa orang lain mengetahui betapa sibuknya kita menyelesaikan pekerjaan tersebut?

Mungkin inilah salah satu keanehan manusia modern: bukan hanya ingin melakukan sesuatu, tetapi juga ingin terlihat sedang melakukan sesuatu. Bukan hanya ingin berhasil, tetapi ingin keberhasilannya disaksikan. Bukan hanya ingin merasa berharga, tetapi ingin mendapatkan konfirmasi dari orang lain bahwa dirinya memang layak dianggap berharga.

Dan media sosial menyediakan panggung yang sangat luas untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Ketika Kesibukan Menjadi Identitas

Dalam The Presentation of Self in Everyday Life, Erving Goffman menjelaskan bagaimana manusia mengelola penampilan dirinya di hadapan orang lain. Interaksi sosial dapat dipahami sebagai semacam pertunjukan, ketika seseorang berusaha membentuk kesan tertentu tentang siapa dirinya. Kita memilih apa yang ingin diperlihatkan, bagaimana ingin dipersepsikan, dan bagian mana dari kehidupan yang sebaiknya tidak diketahui orang lain.

Dalam konteks media sosial, gagasan ini terasa semakin relevan. Seseorang dapat memilih potongan-potongan tertentu dari kehidupannya untuk membangun citra yang diinginkan. Ruang kerja, rapat, laptop, tumpukan dokumen, percakapan profesional, hingga cerita tentang tanggung jawab pekerjaan bisa menjadi bagian dari representasi diri tersebut.

Tentu saja, mengunggah hal-hal semacam itu tidak otomatis berarti seseorang sedang mencari pujian. Namun, ketika aktivitas semacam ini dilakukan terus-menerus dengan penekanan berlebihan pada kesibukan, jabatan, dan pentingnya diri sendiri, kita patut mempertanyakan budaya pengakuan yang berada di belakangnya.

Dalam psikologi sosial, ada konsep impression management, yaitu upaya mengelola kesan yang dibentuk orang lain terhadap diri kita. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa seseorang terkadang tidak cukup hanya menjalani kehidupannya. Ia juga merasa perlu mengatur bagaimana kehidupannya terlihat.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Kesibukan yang seharusnya menjadi bagian dari pekerjaan bisa berubah menjadi simbol status. Jabatan tidak lagi hanya berkaitan dengan tanggung jawab, tetapi juga menjadi alat untuk membangun hierarki sosial. Banyaknya pekerjaan seolah-olah menjadi ukuran betapa dibutuhkannya seseorang. Bahkan, kemampuan untuk mengeluh tentang kesibukan terkadang ikut menjadi penanda bahwa seseorang memiliki kehidupan profesional yang penting.

Seolah-olah semakin sedikit waktu yang dimiliki, semakin tinggi pula nilai dirinya.

Padahal, sibuk tidak selalu berarti produktif. Produktif tidak selalu berarti memberikan dampak yang besar. Dan memiliki jabatan tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana daripada orang lain.

Ada orang yang menghabiskan waktunya bekerja di balik layar, menyelesaikan tugas-tugas sederhana yang membuat kehidupan banyak orang tetap berjalan, tanpa merasa perlu mengumumkan setiap aktivitasnya. Ada pekerja lapangan yang berhadapan dengan panas, hujan, dan risiko keselamatan, tetapi pekerjaannya jarang dianggap cukup bergengsi untuk dipamerkan. Ada pula orang-orang yang bekerja keras sekadar agar keluarganya bisa makan dengan layak esok hari. Mereka mungkin tidak memiliki jabatan mentereng, tidak memimpin banyak bawahan, dan tidak punya cerita profesional yang menarik untuk dijadikan unggahan.

Namun, apakah itu membuat kehidupan mereka kurang bernilai?

Tentu tidak. Hanya saja, dalam masyarakat yang terlalu mudah menghubungkan status dengan harga diri, sesuatu yang terlihat biasa sering kali kurang mendapatkan pengakuan. Sebaliknya, sesuatu yang memiliki simbol prestise dapat memperoleh perhatian yang lebih besar daripada kontribusi nyata yang tidak terlihat.

Kita akhirnya berisiko menilai manusia berdasarkan kemasan sosialnya, bukan berdasarkan bagaimana ia menjalani hidup dan memperlakukan orang lain.


Obsesi untuk Terlihat Berharga

Saya pikir, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sebenarnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Manusia hidup dalam hubungan sosial. Kita membutuhkan penerimaan, penghargaan, dan rasa bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi orang lain. Tidak ada yang salah dengan itu.

Persoalannya bukan pada kebutuhan untuk diakui, melainkan ketika pengakuan berubah menjadi kebutuhan yang tidak pernah selesai. Ketika penghargaan dari orang lain menjadi semacam bahan bakar utama untuk mempertahankan harga diri, seseorang bisa terus mencari cara agar dirinya terlihat lebih penting daripada sebelumnya.

Hari ini menunjukkan kesibukan. Besok menunjukkan jabatan. Lusa menunjukkan keberhasilan. Setelah itu, mungkin menunjukkan betapa banyak orang yang bergantung kepadanya. Setiap unggahan menjadi kesempatan baru untuk mempertegas identitas yang ingin ditampilkan.



Kita tidak dapat mengetahui motif seseorang hanya dari unggahannya. Namun, budaya yang mendorong orang untuk terus membandingkan pencapaian, status, dan gaya hidup memang layak dipertanyakan.

Dalam The Presentation of Self, kita bisa menemukan kerangka untuk memahami bagaimana citra diri dibentuk melalui interaksi. Sementara itu, pemikiran Charles Horton Cooley tentang looking-glass self menawarkan sudut pandang lain: pemahaman kita tentang diri sendiri turut dibentuk oleh bagaimana kita membayangkan orang lain melihat dan menilai kita.

Dengan kata lain, pandangan orang lain dapat menjadi semacam cermin bagi identitas kita. Masalahnya, ketika cermin itu terlalu menentukan, kita bisa kehilangan kemampuan untuk menilai diri sendiri tanpa terus-menerus mencari pantulan yang menyenangkan.

Kita mulai bertanya bukan hanya apakah pekerjaan kita bermanfaat, tetapi apakah pekerjaan itu membuat kita terlihat hebat. Bukan hanya apakah kita menjalani hidup dengan baik, tetapi apakah kehidupan kita tampak lebih baik daripada kehidupan orang lain.

Pada titik tertentu, hidup berubah menjadi perlombaan yang bahkan garis finisnya tidak jelas. Selalu ada orang dengan jabatan lebih tinggi, penghasilan lebih besar, tanggung jawab lebih luas, atau pencapaian yang lebih mengesankan. Jika harga diri bergantung pada perbandingan semacam itu, tidak akan pernah ada alasan yang cukup untuk berhenti membuktikan diri.

Lucunya, seseorang bisa saja merasa paling penting di ruang kerjanya, tetapi di luar sana, dunia terus bergerak tanpa menunggu kehadirannya. Persoalan masyarakat tidak berhenti hanya karena ia sedang rapat. Bencana tidak menunda kedatangannya karena seseorang sedang mengejar target. Orang-orang tetap berjuang memenuhi kebutuhan hidup, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan perjuangan mereka.

Dunia ternyata tidak selalu membutuhkan pengumuman tentang betapa sibuknya kita.

Kadang-kadang, kita sendirilah yang terlalu membutuhkan pengumuman itu.


Dunia Tidak Berputar di Sekitar Pekerjaan Kita

Pernah nggak lo melihat seseorang yang setiap beberapa hari sekali mengunggah kesibukan pekerjaannya di media sosial? Kadang foto laptop dengan puluhan tab terbuka, kadang ruang rapat, kadang tumpukan dokumen, kadang juga cerita tentang betapa rumitnya pekerjaan yang harus diselesaikan. Belum lagi caption yang kurang lebih berbunyi, “Hari ini full meeting, lanjut closing, besok harus presentasi lagi. Semangat!”

Ya, semangat, Bos. Semoga laptopnya nggak ikut burnout.

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan orang yang sibuk bekerja. Kita semua punya tanggung jawab masing-masing. Ada yang bekerja di kantor, pabrik, pasar, bengkel, sawah, proyek bangunan, atau di jalanan mencari nafkah. Ada yang harus duduk delapan jam di depan komputer, ada yang berdiri seharian melayani pelanggan, dan ada yang pulang dengan badan pegal karena tenaganya diperas sejak pagi.

Persoalannya bukan siapa yang lebih sibuk. Persoalannya adalah ketika kesibukan mulai diperlakukan seperti medali kehormatan. Seolah-olah semakin padat jadwal seseorang, semakin tinggi pula nilai dirinya sebagai manusia.

Padahal, kalau dipikir-pikir, orang yang bekerja sebagai admin dan menghabiskan hari dengan mengetik laporan juga sama-sama sedang bekerja. Orang yang menghitung stok barang di Excel juga sedang menjalankan tugasnya. Begitu pula kasir yang menghitung uang kembalian, buruh yang memeriksa hasil produksi, atau pedagang yang sejak subuh sudah menggelar dagangan di pasar.

Mereka semua punya pekerjaan. Mereka semua punya tanggung jawab.

Bedanya, sebagian pekerjaan terlihat lebih keren ketika difoto, sedangkan sebagian lainnya bahkan tidak pernah terpikir untuk dijadikan konten.

Coba bayangkan seorang pegawai kantor mengunggah foto laptop dengan caption, “Hari ini menyelesaikan laporan untuk memastikan operasional berjalan optimal.” Sementara di tempat lain, seorang pekerja kebersihan sudah mengangkat sampah sejak pagi, seorang petugas pasar sedang membersihkan sisa sayuran yang membusuk, dan seorang pengemudi ojek online sedang menerima pesanan pertamanya demi membayar cicilan motor.


Si pegawai kantor mungkin mendapat puluhan komentar, “Wih, sibuk banget, Bos!”, “Keren, calon direktur nih!”, atau “Jangan lupa istirahat Pak CEO, idih orang penting!”

Sementara orang-orang yang pekerjaannya berlangsung di luar sorotan itu menyelesaikan tanggung jawabnya tanpa ada yang merasa perlu memberikan tepuk tangan.

Tentu saja, ini bukan berarti pekerjaan kantor tidak penting atau pekerjaan fisik lebih mulia. Keduanya punya fungsi masing-masing. Yang patut dipertanyakan adalah mengapa kita terkadang begitu mudah terkesan oleh simbol kesibukan, tetapi kurang memperhatikan kerja nyata yang tidak dikemas dengan menarik.

Kita seperti masyarakat yang kadang lebih mudah mengagumi foto orang sedang bekerja daripada memahami apa yang sebenarnya dikerjakan.

Lucunya lagi, orang yang benar-benar sibuk belum tentu punya waktu untuk mengumumkan kesibukannya setiap saat. Ada orang yang pulang kerja langsung tidur karena besok harus masuk pagi. Ada ibu yang berjualan dari subuh sampai malam dan masih harus mengurus rumah. Ada pekerja pabrik yang bahkan tidak sempat membuka media sosial ketika sedang mengejar target produksi.

Bukan karena mereka lebih rendah hati atau lebih mulia. Bisa jadi mereka memang sedang sibuk menjalani hidup, bukan sibuk membuat hidupnya terlihat sibuk.

Dan di sinilah kita perlu membedakan antara bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun citra bahwa diri kita adalah orang yang luar biasa karena pekerjaan kita.

Sebab, dunia tidak berputar di sekitar pekerjaan kita. Kalender rapat kita bukan agenda seluruh umat manusia. Target bulanan perusahaan kita bukan persoalan terbesar yang sedang dihadapi masyarakat. Dan jabatan yang membuat kita dipanggil “Pak” atau “Bu” di kantor tidak otomatis membuat kita menjadi manusia yang lebih penting di luar sana.

Begitu keluar dari kantor, kita kembali menjadi bagian dari masyarakat. Kita tetap harus mengantre di SPBU, terjebak macet, menunggu angkot, menghadapi harga kebutuhan pokok, dan kadang-kadang kesal karena paket belanja daring tak kunjung datang.

Direktur pun bisa kena tilang. Manajer pun bisa salah naik angkot. Orang yang memimpin puluhan karyawan pun bisa kebingungan ketika token listrik berbunyi tengah malam.

Hidup punya cara yang cukup demokratis untuk mengingatkan kita bahwa jabatan tidak membuat seseorang kebal terhadap persoalan sehari-hari.

Jadi, silakan bangga dengan pekerjaan lo. Silakan ceritakan pencapaian lo. Tetapi jangan sampai pekerjaan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sebab, yang membuat seseorang layak dihargai bukan hanya apa yang tertulis di kartu namanya, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan manusia yang tidak punya kepentingan apa pun untuk diberikan kepadanya.

Masalah muncul ketika penilaian tersebut menjadi terlalu dominan.

Awalnya, kita mengunggah pekerjaan karena ingin berbagi. Lama-lama, kita mulai memikirkan apakah unggahan itu terlihat cukup keren. Kemudian kita membandingkan respons orang lain. Ketika unggahan seseorang mendapatkan banyak pujian, kita mungkin mulai merasa bahwa kehidupan profesional kita kurang menarik.

Akhirnya, kita bukan hanya bekerja. Kita juga bekerja untuk mempertahankan citra sebagai orang yang bekerja keras.

Kalau sudah begitu, pekerjaan memiliki dua beban: menyelesaikan tanggung jawab yang sebenarnya dan menjaga agar orang lain tetap percaya bahwa kita adalah orang yang penting.

Waduh, kerjaan belum selesai, personal branding sudah lembur.

Tentu saja, membangun reputasi profesional tidak selalu buruk. Bagi pekerja kreatif, pencari kerja, pengusaha, atau orang yang sedang membangun jaringan profesional, menampilkan pekerjaan bisa sangat bermanfaat. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika citra mulai mengalahkan substansi, ketika kebutuhan untuk terlihat hebat lebih besar daripada keinginan untuk melakukan sesuatu dengan baik.

Sebab, kalau nilai diri kita selalu membutuhkan tepuk tangan, kita akan terus mencari panggung baru. Hari ini jabatan, besok pencapaian, lusa kesibukan, lalu apa lagi?

Selalu ada sesuatu yang bisa dipamerkan, selama kita merasa bahwa menjadi manusia biasa saja belum cukup.


Obsesi Untuk Terlihat Berharga

Saya pikir, kebutuhan untuk diakui sebenarnya manusiawi. Kita senang ketika usaha kita dihargai. Kita bahagia ketika orang lain mengakui kemampuan kita. Bahkan, satu kalimat sederhana seperti “Kerjaan lo bagus” bisa membuat seseorang merasa bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Persoalannya adalah ketika pengakuan berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi sesuatu yang harus terus-menerus kita kejar agar merasa berharga.

Coba perhatikan bagaimana sebagian orang memperkenalkan dirinya ketika bertemu orang baru. Pertanyaan tentang pekerjaan sering kali segera diikuti pertanyaan tentang jabatan, perusahaan, atau penghasilan.

“Kerja di mana sekarang?”

“Posisi apa?”

“Wah, udah jadi supervisor?”

Percakapan sederhana itu bisa menjadi cara untuk saling mengenal. Namun, terkadang ia juga berubah menjadi pengukuran status secara terselubung. Kita mulai menilai seseorang berdasarkan pekerjaannya sebelum benar-benar mengetahui siapa dirinya.

Ada orang yang langsung dianggap hebat karena bekerja di perusahaan besar. Ada yang dipandang lebih sukses karena memiliki jabatan manajerial. Sebaliknya, seseorang yang bekerja serabutan mungkin harus menjelaskan kehidupannya lebih panjang agar tidak dianggap gagal.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu seluruh cerita di balik pekerjaan seseorang.

Orang yang bekerja di kantor bergengsi mungkin sedang menanggung tekanan finansial yang berat. Orang yang berjualan di pinggir jalan mungkin memiliki kehidupan yang lebih tenang dan mandiri. Seseorang yang belum mendapatkan pekerjaan tetap mungkin sedang merawat anggota keluarga yang sakit. Ada pula orang yang memilih pekerjaan sederhana karena ingin memiliki waktu untuk kehidupan di luar pekerjaan.

Kita tidak bisa menilai keseluruhan kehidupan hanya dari satu label profesional.

Sayangnya, budaya perbandingan sosial sering membuat kita lupa akan hal itu. Kita melihat potongan kehidupan orang lain, kemudian menjadikannya ukuran untuk menilai kehidupan sendiri. Ketika orang lain terlihat lebih berhasil, kita merasa tertinggal. Ketika diri sendiri memperoleh pencapaian, kita merasa lebih unggul.

Padahal, perlombaan itu sering kali tidak pernah benar-benar disepakati oleh siapa pun.

Seperti dua orang yang sama-sama membeli motor. Orang pertama membeli motor untuk berangkat kerja. Orang kedua membeli motor yang sama, tetapi kemudian merasa perlu memastikan bahwa tetangganya mengetahui bahwa motornya baru.

Motor yang satu dipakai untuk mencari nafkah. Motor yang lain juga bisa dipakai untuk mencari nafkah, tetapi sekarang memiliki tugas tambahan: menjaga harga diri pemiliknya.

Kasihan juga motornya. Belum tentu mesinnya yang paling berat bekerja.

Begitulah ketika benda, pekerjaan, dan pencapaian mulai memikul beban untuk membuktikan nilai diri kita.

Kita tidak lagi cukup dengan memiliki sesuatu yang berguna. Kita ingin sesuatu itu menghasilkan pengakuan. Kita tidak lagi cukup dengan melakukan pekerjaan dengan baik. Kita ingin orang lain mengetahui bahwa kita melakukannya dengan baik.

Pemikiran Cooley tentang looking-glass self dapat membantu menjelaskan bagaimana penilaian yang kita bayangkan dari orang lain ikut membentuk identitas kita. Jika kita terus-menerus membayangkan bahwa orang lain akan menghargai kesibukan dan status kita, kita mungkin semakin terdorong menampilkan kedua hal tersebut.

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: sampai kapan kita harus membuktikan diri agar merasa cukup?

Jika ukuran keberhasilan kita selalu bergantung pada posisi relatif terhadap orang lain, maka rasa cukup akan menjadi sesuatu yang sulit dicapai. Akan selalu ada orang yang memiliki jabatan lebih tinggi, penghasilan lebih besar, rumah lebih bagus, atau pencapaian yang lebih mengesankan.

Kita bisa saja sudah memiliki kehidupan yang layak, tetapi tetap merasa tertinggal karena seseorang di linimasa terlihat lebih sukses.

Padahal, media sosial bukan laporan lengkap tentang kehidupan seseorang. Ia lebih mirip etalase toko: barang-barang terbaik diletakkan di depan, sedangkan gudang, biaya operasional, utang, dan masalah sehari-hari tidak selalu terlihat oleh pengunjung.

Kita kemudian membandingkan seluruh isi kehidupan kita dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain.

Wajar kalau akhirnya merasa kurang.

Karena itu, saya merasa kita perlu membedakan antara keinginan untuk berkembang dan kebutuhan untuk terus membuktikan diri. Berkembang berarti kita ingin menjadi lebih baik daripada diri kita sebelumnya. Membuktikan diri secara berlebihan berarti kita merasa harus terlihat lebih baik daripada orang lain agar keberadaan kita dianggap berarti.

Yang pertama dapat mendorong kita belajar. Yang kedua bisa membuat kita terus-menerus terjebak dalam perbandingan.

Kita boleh ingin menjadi manajer, direktur, pengusaha, atau profesional yang hebat. Tetapi kita juga perlu mampu menerima kenyataan bahwa pada hari-hari tertentu, kita hanyalah manusia biasa yang menyelesaikan pekerjaan, pulang ke rumah, makan, beristirahat, dan kembali menjalani hidup esok hari.

Tidak ada yang memalukan dari menjadi biasa.

Yang melelahkan justru ketika kita merasa harus mengubah setiap bagian kehidupan menjadi bukti bahwa kita luar biasa.

Ketika Individualisme Mengalahkan Kepekaan Sosial

Di sinilah keresahan saya mulai bergerak dari persoalan individu menuju persoalan masyarakat.

Saya tidak bisa memastikan bahwa orang yang gemar memamerkan kesibukan pasti individualistis. Ada orang yang aktif mengunggah pekerjaannya, tetapi juga rajin membantu tetangga, menyumbang ketika terjadi bencana, atau mendampingi teman yang sedang mengalami kesulitan. Ada pula orang yang jarang mengunggah apa pun tentang kehidupan sosial, tetapi memiliki kepedulian yang besar di dunia nyata.

Empati tidak selalu membutuhkan panggung.

Namun, ketika budaya pamer pencapaian menjadi begitu dominan, kita tetap perlu bertanya tentang nilai-nilai yang sedang kita pelihara. Mengapa keberhasilan pribadi begitu mudah mendapatkan perhatian, sementara persoalan bersama sering kali hanya menjadi topik yang ramai selama beberapa hari?

Bayangkan sebuah linimasa ketika harga kebutuhan pokok menjadi bahan keluhan, berita banjir bermunculan, kebakaran hutan menimbulkan persoalan lingkungan, dan orang-orang membicarakan sulitnya mencari pekerjaan. Di antara semua itu, ada pula unggahan tentang betapa padatnya jadwal rapat, betapa pentingnya sebuah jabatan, atau betapa sibuknya seseorang mengurus pekerjaan kantor.

Sekali lagi, unggahan pekerjaan itu sendiri bukan masalah. Orang tetap harus bekerja meskipun keadaan sosial sedang sulit. Tidak masuk akal jika kita menuntut semua orang berhenti menjalani kehidupan normal setiap kali terjadi persoalan di masyarakat.

Yang menarik untuk direnungkan adalah ketika kehidupan bersama hanya menjadi latar belakang, sementara perhatian terus-menerus diarahkan kepada kehebatan diri sendiri.

Kita seolah-olah hidup dalam dua dunia yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, ada dunia yang dipenuhi persoalan kolektif: ketimpangan, kesulitan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan ketidakpastian hidup. Di sisi lain, ada dunia yang dipenuhi perlombaan individual untuk menunjukkan siapa yang paling produktif, paling sibuk, paling sukses, dan paling layak dikagumi.

Keduanya tidak selalu bertentangan. Orang bisa mengejar karier sekaligus peduli terhadap masyarakat. Namun, ketika dunia kedua menyerap hampir seluruh perhatian kita, kita berisiko lupa bahwa keberhasilan pribadi tidak berlangsung dalam ruang hampa.

Ada cerita sederhana yang bisa kita temukan di banyak lingkungan perumahan. Ketika ada tetangga sakit atau rumah seseorang kebanjiran, biasanya muncul orang-orang yang membantu tanpa banyak bicara. Ada yang meminjamkan kendaraan, mengangkat barang, memasak, mengumpulkan bantuan, atau sekadar datang untuk memastikan bahwa keluarga yang terdampak tidak sendirian.

Orang-orang seperti ini belum tentu memiliki jabatan tinggi. Tidak semuanya punya gelar yang mengesankan. Bahkan, beberapa mungkin tidak terlalu aktif di media sosial.

Tetapi ketika keadaan sulit datang, kehadiran mereka terasa nyata.

Mereka tidak harus mengunggah foto sedang mengangkat barang untuk membuktikan bahwa mereka berguna. Tidak perlu membuat caption tentang betapa pentingnya peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka membantu karena ada orang yang membutuhkan bantuan.

Tentu saja, mendokumentasikan kegiatan sosial bukan sesuatu yang salah. Dokumentasi bisa mengajak orang lain ikut membantu dan membuat persoalan yang terabaikan menjadi terlihat. Persoalannya bukan apakah sesuatu dipublikasikan, melainkan apakah publikasi itu membantu tujuan bersama atau hanya menjadikan penderitaan orang lain sebagai aksesori bagi citra pribadi.

Perbedaan itu penting.

Dalam pemikiran antropolog David Graeber, kehidupan manusia dapat dipahami melalui berbagai bentuk hubungan sosial, kewajiban, dan kerja sama yang tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan ukuran ekonomi. Sementara itu, kajian sosiologi dan antropologi tentang solidaritas mengingatkan kita bahwa kehidupan masyarakat bergantung pada hubungan timbal balik, kepercayaan, dan kemampuan untuk saling membantu.

Kita memang membutuhkan pekerjaan dan kegiatan ekonomi. Namun, masyarakat tidak dapat bertahan hanya dengan orang-orang yang mengejar kepentingan masing-masing. Kita juga membutuhkan orang yang mau bekerja sama, berbagi pengetahuan, membantu ketika ada kesulitan, dan memperjuangkan kondisi yang lebih layak bagi banyak orang.

Coba bayangkan jika semua orang hanya mau melakukan sesuatu ketika ada keuntungan pribadi atau pujian yang bisa diperoleh.

Tetangga membantu tetangga hanya jika ada peluang menaikkan reputasi. Orang menyumbang hanya jika namanya diumumkan. Seseorang membantu rekan kerja hanya jika bantuan itu dapat dicatat sebagai prestasi. Bahkan, menolong orang jatuh dari motor harus menunggu seseorang membuka kamera terlebih dahulu.

“Bang, jangan berdiri dulu. Kita ambil angle-nya, Bang.”


Kalau kehidupan sampai seperti itu, kita bukan kekurangan orang yang ingin terlihat baik. Kita sedang menghadapi persoalan tentang bagaimana mempertahankan kebaikan ketika tidak ada penonton.

Individualisme yang perlu kita kritik bukanlah kebebasan seseorang untuk mengatur kehidupannya sendiri. Bukan pula hak untuk mengejar kesejahteraan pribadi. Yang patut dipertanyakan adalah sikap ketika kepentingan diri sendiri menjadi begitu dominan sehingga hubungan dengan orang lain hanya dipandang sebagai alat untuk memperoleh keuntungan, status, atau pengakuan.
Kita bisa menjadi pribadi yang mandiri tanpa harus bersikap acuh. Kita bisa mengejar keberhasilan tanpa menganggap orang lain sebagai pesaing dalam segala hal. Kita bisa memiliki kehidupan yang baik sambil menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai keadaan tersebut.
Dan kesadaran itulah yang membuat keberhasilan pribadi tidak harus berakhir sebagai kesombongan.


Kita Terlalu Sibuk Menjadi Seseorang

Mungkin salah satu penyebab persoalan ini adalah cara masyarakat mendefinisikan keberhasilan.
Sejak kecil, banyak dari kita terbiasa mendengar nasihat tentang pentingnya menjadi orang sukses. Belajar yang rajin, dapatkan pekerjaan bagus, naik jabatan, punya rumah, punya kendaraan, dan bangun kehidupan yang lebih baik. Nasihat itu tidak sepenuhnya salah. Orang tua tentu ingin anaknya hidup layak dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun, dalam perjalanan hidup, kita terkadang menerima pesan tambahan yang tidak pernah diucapkan secara langsung: bahwa keberhasilan baru benar-benar berarti jika orang lain bisa melihatnya.

Anak yang mendapatkan pekerjaan bergengsi menjadi kebanggaan keluarga. Kerabat yang naik jabatan menjadi bahan cerita dalam pertemuan keluarga. Orang yang membeli rumah baru mendapatkan ucapan selamat. Sementara seseorang yang masih mencari pekerjaan mungkin harus menghadapi pertanyaan yang berulang-ulang.
“Sekarang kerja di mana?”
“Kapan nikah?”
“Kapan punya rumah?”
“Teman-temanmu sudah pada sukses, lho.”

Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang datang dari kepedulian. Namun, dalam situasi tertentu, semuanya bisa berubah menjadi tekanan sosial yang membuat orang merasa harus mengikuti urutan keberhasilan yang ditetapkan masyarakat.

Padahal, kehidupan bukan perlombaan lari yang semua pesertanya memulai dari garis yang sama.

Ada orang yang sejak awal mendapatkan akses pendidikan yang baik, dukungan keluarga, jaringan profesional, dan kondisi ekonomi yang relatif aman. Ada pula yang harus bekerja sejak muda, membantu keluarga, atau menghadapi berbagai keterbatasan sebelum sempat memikirkan cita-citanya sendiri.

Menyamakan semua orang berdasarkan hasil akhirnya tanpa melihat perbedaan kondisi awal adalah cara berpikir yang terlalu sederhana.

Bayangkan dua orang yang sama-sama ingin membuka usaha. Orang pertama memiliki tabungan keluarga, tempat usaha, dan jaringan pemasok. Orang kedua harus mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dari penghasilannya sendiri. Jika usaha orang pertama berkembang lebih cepat, apakah itu otomatis membuktikan bahwa ia lebih rajin atau lebih pintar?

Belum tentu. Kemampuan dan kerja keras tentu berpengaruh, tetapi kesempatan, sumber daya, lingkungan, dan keberuntungan juga dapat memainkan peran.

Hal serupa berlaku dalam dunia kerja. Seseorang bisa mencapai posisi tertentu karena kompetensi dan dedikasinya. Namun, perjalanan karier juga dipengaruhi oleh kesempatan mendapatkan pendidikan, kondisi industri, jaringan, kebijakan perusahaan, dan banyak faktor lainnya.

Mengakui hal tersebut bukan berarti meniadakan usaha pribadi. Kita hanya sedang menempatkan keberhasilan dalam konteks yang lebih realistis.

Sayangnya, budaya yang terlalu mengagungkan pencapaian individual sering kali lebih tertarik pada cerita tentang orang yang berhasil mengalahkan semua rintangan daripada membahas mengapa sebagian orang harus menghadapi rintangan yang jauh lebih berat sejak awal.

Kita menyukai kisah tentang seseorang yang berjuang dari nol hingga menjadi sukses. Kisah itu bisa menginspirasi. Namun, jika tidak dibaca secara kritis, kita bisa tergoda menyimpulkan bahwa siapa pun yang belum sukses pasti kurang berusaha.

Padahal, tidak semua orang yang tertinggal sedang bermalas-malasan. Tidak semua orang yang gagal sedang membuat alasan. Dan tidak semua orang yang hidup sederhana membutuhkan ceramah tentang kerja keras dari orang yang kondisi hidupnya jauh lebih menguntungkan.

Kadang-kadang, seseorang bukan membutuhkan motivasi untuk berlari lebih cepat. Ia membutuhkan kesempatan agar bisa ikut berlari.

Karena itu, saya merasa ada yang perlu kita periksa kembali dari obsesi untuk menjadi seseorang. Menjadi seseorang seolah-olah selalu berarti mencapai posisi yang lebih tinggi, mendapatkan penghasilan lebih besar, atau memiliki sesuatu yang membuat orang lain terkesan.

Padahal, menjadi seseorang juga bisa berarti menjadi manusia yang mampu berpikir jernih, bersikap adil, mengakui kesalahan, dan memahami bahwa kehidupan orang lain tidak dapat diukur hanya berdasarkan pencapaian profesionalnya.

Kita boleh ingin menjadi manajer, direktur, pengusaha, seniman, atau ahli dalam bidang tertentu. Namun, kita juga perlu memiliki ruang untuk menjadi manusia yang tidak selalu produktif, tidak selalu berhasil, dan tidak selalu memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan.

Sebab, hidup tidak selalu tentang menaiki tangga. Ada kalanya kita harus berhenti, melihat keadaan sekitar, dan menyadari bahwa orang-orang di bawah, di samping, atau bahkan di belakang kita bukan sekadar pesaing yang harus dilewati.

Mereka adalah manusia yang juga sedang menjalani kehidupannya.

Dan kalau kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita telah menjadi seseorang, jangan-jangan kita justru lupa belajar menjadi manusia.

Di Tengah Dunia yang Berantakan, Kita Masih Sibuk Membuktikan Diri

Saya tidak tahu apakah masyarakat sekarang benar-benar lebih individualistis daripada generasi sebelumnya. Untuk menyimpulkan itu, kita membutuhkan penelitian yang lebih luas daripada sekadar mengamati unggahan di media sosial. Lagi pula, setiap generasi memiliki bentuk pencitraan dan ukuran statusnya sendiri.

Dulu, mungkin orang menunjukkan keberhasilannya melalui rumah yang lebih besar, kendaraan baru, cerita tentang jabatan, atau barang-barang yang dipamerkan ketika ada tamu berkunjung. Sekarang, semua itu bisa hadir dalam bentuk unggahan, video pendek, foto ruang kerja, atau cerita tentang betapa sibuknya hari yang baru saja dilewati.

Panggungnya berubah. Dorongan untuk mendapatkan pengakuan tidak selalu ikut berubah.

Namun, ada sesuatu yang patut kita renungkan di tengah semua itu: kita hidup dalam masyarakat yang menghadapi banyak persoalan, tetapi perhatian kita sering kali begitu mudah terserap oleh perlombaan membangun citra diri.

Ketika ada banjir, orang-orang kehilangan rumah dan harus memikirkan bagaimana memulai kembali kehidupan mereka. Ketika kebakaran hutan terjadi, dampaknya tidak berhenti pada berita tentang luas lahan yang terbakar. Ada kesehatan masyarakat, kehidupan satwa, kualitas udara, dan masa depan lingkungan yang ikut dipertaruhkan. Ketika ekonomi menekan rumah tangga, persoalannya bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan keputusan sehari-hari tentang apa yang harus dibeli dan kebutuhan apa yang terpaksa ditunda.

Di tengah keadaan seperti itu, kita tetap harus bekerja. Kita tetap perlu mengejar penghasilan, mengembangkan keterampilan, dan membangun masa depan. Tidak ada kontradiksi dalam melakukan semua itu.

Yang perlu kita hindari adalah anggapan bahwa kehidupan pribadi kita begitu penting sampai kita kehilangan kemampuan untuk melihat kehidupan di luar diri sendiri.

Kita boleh bangga dengan pekerjaan, tetapi tidak perlu menjadikannya ukuran untuk merendahkan orang lain. Kita boleh menikmati pencapaian, tetapi tidak harus terus-menerus menjadikannya bahan pembuktian. Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik tanpa harus menganggap bahwa mereka yang belum mencapainya adalah manusia yang kurang berharga.

Dan kita boleh menggunakan media sosial untuk menunjukkan keberhasilan, tetapi jangan sampai seluruh kehidupan berubah menjadi panggung yang membuat kita merasa harus selalu tampil mengesankan.

Barangkali kita perlu kembali belajar menikmati sesuatu tanpa harus mengumumkannya. Bekerja dengan baik tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa kita sibuk. Membantu orang lain tanpa menjadikan bantuannya sebagai alat untuk mendapatkan pujian. Mendengarkan seseorang tanpa buru-buru membandingkan pengalamannya dengan pengalaman kita sendiri.

Hal-hal semacam itu mungkin terdengar sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk dibicarakan di tengah dunia yang dipenuhi teori, strategi, dan ambisi. Namun, kehidupan bersama justru sering bergantung pada hal-hal yang tidak selalu mendapatkan panggung.

Kita membutuhkan orang yang mau bekerja keras, tetapi juga orang yang memahami batas antara ambisi dan keserakahan. Kita membutuhkan orang yang kompeten, tetapi juga orang yang mau mengakui bahwa ia tidak mengetahui segala sesuatu. Kita membutuhkan orang yang mampu memimpin, tetapi juga orang yang tidak menggunakan kekuasaan untuk membuat dirinya tampak lebih tinggi daripada orang lain.

Dan yang tidak kalah penting, kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya menghargai manusia ketika mereka sedang produktif, berhasil, dan memiliki sesuatu untuk ditawarkan.

Bagaimana kita memperlakukan orang yang kehilangan pekerjaannya? Bagaimana kita memandang orang yang gagal menjalankan usaha? Bagaimana kita memperlakukan pekerja yang tidak memiliki jabatan, orang yang hidup sederhana, atau mereka yang sedang berjuang keluar dari kesulitan?

Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan apakah penghargaan kita terhadap manusia benar-benar bersifat manusiawi, atau hanya diberikan ketika seseorang memenuhi ukuran keberhasilan yang kita anggap penting.

Sebab, nilai manusia tidak semestinya hilang hanya karena ia tidak lagi produktif, tidak memiliki jabatan, atau tidak mampu menunjukkan pencapaian yang mengesankan.

Pada akhirnya, saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk berhenti mengejar keberhasilan. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa keberhasilan bukan satu-satunya hal yang membuat hidup layak dijalani. Ada hubungan yang perlu dirawat, persoalan sosial yang perlu dipahami, ketidakadilan yang perlu dikritik, dan sesama manusia yang perlu diperlakukan dengan hormat.

Kita boleh membangun karier setinggi mungkin. Kita boleh memiliki cita-cita besar. Kita boleh bekerja keras untuk memperbaiki keadaan hidup. Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa bahwa keberhasilan pribadi tidak otomatis menjadikan kita lebih unggul sebagai manusia.

Dunia tidak membutuhkan kita untuk terus-menerus mengumumkan betapa pentingnya diri kita. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang memahami persoalan di luar kepentingannya sendiri, bersedia bekerja sama, dan tidak kehilangan kepedulian ketika sedang mengejar ambisinya.

Mungkin kita memang tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat. Kita tidak bisa menghentikan semua bencana, menghapus seluruh ketimpangan, atau memperbaiki sistem yang bermasalah hanya dengan niat baik. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk menganggap bahwa kehidupan bersama tidak ada hubungannya dengan kita.

Kita masih bisa memilih untuk tidak merendahkan orang lain. Kita masih bisa membagikan pengetahuan tanpa merasa paling pintar. Kita masih bisa membantu tanpa menuntut tepuk tangan. Kita masih bisa memperjuangkan kehidupan yang lebih baik sambil memahami bahwa orang lain juga berhak mendapatkan kesempatan yang layak.

Dan mungkin, dari situlah solidaritas dimulai: bukan dari keinginan untuk terlihat sebagai orang baik, melainkan dari kesadaran bahwa kehidupan kita saling terhubung, bahkan ketika kita tidak mendapatkan apa-apa dari hubungan tersebut.

Saya tidak tahu apakah dunia akan menjadi lebih baik jika semua orang berhenti memamerkan kesibukannya. Barangkali tidak. Persoalan sosial jauh lebih rumit daripada itu.

Namun, saya percaya bahwa dunia akan sedikit lebih manusiawi jika kita berhenti mengukur nilai orang lain berdasarkan seberapa penting mereka terlihat, lalu mulai memperhatikan bagaimana mereka menjalani hidup dan memperlakukan sesamanya.

Kita tidak harus menjadi orang paling hebat di ruangan. Tidak harus menjadi yang paling sibuk di kantor. Tidak harus selalu memiliki cerita yang membuat orang lain kagum.

Kadang-kadang, cukup menjadi orang yang melakukan pekerjaannya dengan baik, tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan masih memiliki waktu serta kepedulian untuk melihat keadaan di sekitarnya.

Sebab, di tengah dunia yang berantakan, kita tidak kekurangan orang yang ingin terlihat hebat.

Yang perlu terus kita rawat adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia di tengah keinginan kita untuk menjadi seseorang.




Komentar

Postingan Populer